Rabu, 03 Juni 2026

Ketika "Tetap Positif" Justru Menjadi Racun: Mengenal Sisi Gelap Toxic Positivity

 


Pernahkah kamu berada di titik terendah dalam hidup? entah karena gagal ujian, patah hati, atau kelelahan emosional. Lalu seseorang datang dan berkata, "Tetap positif aja, ambil hikmahnya," atau "Jangan sedih terus, masih banyak orang yang lebih susah dari kamu"? Niat mereka mungkin sangat baik, ingin menguatkan dan menghibur. Namun, alih-alih merasa tenang, dada kamu justru terasa makin sesak dan didera rasa bersalah karena gagal merasa bahagia.

Fenomena psikologis inilah yang belakangan akrab kita kenal sebagai Toxic Positivity. Secara sederhana, toxic positivity adalah suatu kondisi ketika seseorang merasa atau dipaksa untuk selalu berpikir positif dan dituntut untuk konstan terlihat baik-baik saja (Sumakul dkk., 2025). Pola pikir ini menolak mentah-mentah segala bentuk emosi negatif, bahkan saat kita sedang mengalami kesedihan, kekecewaan mendalam, atau stres berat sekalipun (Hasana dkk., 2026). Padahal, secara kodrati, semua emosi memiliki tempat, ruang, dan fungsinya tersendiri dalam roda kehidupan kita.


Rambu-Rambu Tersembunyi: Apakah Kamu Korbannya?

Sering kali kita tidak sadar bahwa kita sedang terjebak atau bahkan menyebarkan racun kepositifan ini. Berdasarkan telaah psikologis, ada beberapa tanda mencolok ketika dorongan positif mulai berubah menjadi destruktif:

• Memaksa diri terlihat kuat: Menolak memperlihatkan kerapuhan di hadapan publik dan memasang "topeng" ketegaran yang melelahkan.

• Menyembunyikan kesedihan: Memilih memendam rapat-rapat air mata agar orang lain tidak melihat sisi lemah kamu.

• Rasa bersalah yang toksik: Merasa berdosa, menyalahkan diri sendiri, atau merasa gagal secara moral saat emosi negatif seperti kecewa atau marah itu muncul.

• Stigmatisasi emosi: Menganggap emosi negatif sebagai kelemahan karakter yang harus buru-buru dieliminasi.

• Slogan kepalsuan: Sering berucap, "Aku baik-baik saja," kepada diri sendiri dan orang lain, padahal realitas batin kamu sedang luluh lantak.


Kalimat yang Sering Muncul tapi "Membungkam"

Dalam interaksi sosial sehari-hari, kalimat-kalimat penghiburan semu sering kali terlontar tanpa filter. Ungkapan klasik seperti "Jangan sedih terus," "Tetap positif aja," "Masih banyak yang lebih susah," hingga tirani kalimat "Kamu harus bersyukur," sebenarnya berpotensi menjadi bumerang psikologis (Anggraeni & Kuncoro, 2025). Bagaimanapun, deretan kalimat tersebut kerap membuat seseorang merasa perasaannya sama sekali tidak didengar, tidak divalidasi, dan dianggap remeh.


Bahaya yang Sering Tidak Disadari:

Menekan atau mengubur emosi negatif sama sekali tidak akan membuat masalah itu menguap hilang. Alih-alih menyembuhkan, penolakan emosional ini justru bisa memicu bom waktu berupa peningkatan kadar stres ekstrem, kecemasan kronis, pola pikir overthinking yang menguras energi, hingga titik kulminasi berupa kelelahan emosional (emotional burnout).

Merasa sedih, marah, kecewa, hancur, atau lelah secara psikis adalah hal yang sangat normal dan mutlak manusiawi. Menolak emosi-emosi ini sama saja dengan menolak bagian utuh dari kemanusiaan kamu sendiri.


Catatan Penting untuk Waras Mental

Sebagai insan yang dinamis, terutama bagi kalangan mahasiswa yang rentan menghadapi tekanan akademik serta transisi hidup. penting untuk mengingat tiga pilar kesehatan mental berikut:

1. Tidak apa-apa jika hari ini kamu belum baik-baik saja. Hidup bukanlah kompetisi untuk selalu tersenyum.

2. Tidak semua masalah harus diselesaikan dengan kata-kata positif. Ada kalanya masalah membutuhkan tindakan nyata, ruang untuk menangis, atau waktu untuk beristirahat.

3. Menerima emosi adalah bagian dari menjaga kesehatan mental. Validasi rasa sakit kamu sebelum kamu mulai menyembuhkannya.



Sumber: 

Anggraeni, D., & Kuncoro, A. (2025). Pengaruh Toxic Positivity dan Regulasi Diri terhadap Pengambilan Keputusan Perguruan Tinggi oleh Mahasiswa Baru. Takaya: Jurnal Pendidikan dan Humaniora.

Hasana, S., Madi, & Rahim, A. (2026). Toxic Positivity di Kalangan Mahasiswa: Analisis Narasi dalam Perspektif Pendidikan Islam pada Mahasiswa FAI UM Buton Angkatan 2023. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar.

Sumakul, L., Langi, F. L. F. G., Waturandang, M. J., & Wayong, M. (2025). Dampak Toxic Positivity terhadap Kesehatan Mental Mahasiswa. Journal of Psychology Humanlight.

Ketika "Tetap Positif" Justru Menjadi Racun: Mengenal Sisi Gelap Toxic Positivity

  Pernahkah kamu berada di titik terendah dalam hidup? entah karena gagal ujian, patah hati, atau kelelahan emosional. Lalu seseorang datang...