Pernahkah kamu merasa musuh paling keras dalam hidupmu bukan orang lain, melainkan suara di dalam kepala sendiri? Suara itu sering disebut inner critic, bagian dari diri yang suka mengomentari, menyalahkan, bahkan merendahkan kita saat gagal atau merasa belum cukup baik.
Masalahnya, suara ini sering muncul tanpa kita sadari. Ia bisa datang dalam bentuk pikiran seperti, “Aku memang tidak mampu,” “Aku selalu salah,” atau “Orang lain pasti lebih baik dariku.” Jika dibiarkan terus-menerus, inner critic bisa membuat seseorang mudah overthinking, merasa insecure, takut mencoba hal baru, dan kehilangan rasa percaya diri.
Di sisi lain, ada konsep yang disebut inner friend. Ini adalah suara yang lebih lembut, lebih tenang, dan lebih mendukung. Kalau inner critic suka menghakimi, inner friend justru mengingatkan bahwa gagal itu manusiawi dan setiap orang punya proses belajar masing-masing.
Dalam dunia psikologi, kebiasaan mengkritik diri sendiri ini dikenal sebagai self-criticism. Penelitian menunjukkan bahwa self-criticism yang berlebihan dapat berkaitan dengan meningkatnya tekanan psikologis dan perasaan tidak cukup baik. Karena itu, penting untuk mulai mengenali kapan suara negatif itu muncul dan bagaimana cara meresponsnya dengan lebih sehat.
Salah satu cara paling efektif untuk menghadapinya adalah dengan melatih self-compassion atau welas asih pada diri sendiri. Artinya, kita belajar memperlakukan diri seperti kita memperlakukan sahabat yang sedang kesulitan: dengan pengertian, empati, dan dukungan. Penelitian juga menunjukkan bahwa self-compassion dapat membantu mengurangi dampak negatif dari self-criticism.
Langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah berhenti sejenak saat pikiran negatif muncul, lalu tanyakan pada diri sendiri: “Kalau sahabatku mengalami hal ini, apa yang akan aku katakan padanya?” Pertanyaan ini membantu kita mengganti suara yang menyalahkan dengan suara yang lebih membangun. Lama-kelamaan, cara bicara ke diri sendiri bisa berubah menjadi lebih sehat dan menenangkan.
Sumber:
Gruber, J., & colleagues. (2022/2023). Self-Compassion: Theory, Method, Research, and Intervention. Annual Review of Psychology, 74, 193–218. DOI: 10.1146/annurev-psych-032420-031047
Gambaran Kritik Diri (Self-Criticism) Pada Mahasiswa. Jurnal Konseling dan Pendidikan, 2022, 185–192
Muttaqin, D., Yunanto, T. A. R., & Fitria, A. Z. N. (2020). Properti Psikometri Self-Compassion Scale versi Indonesia. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia.
Yousefi, Z., & Golparvar, M. (2025). Self-Compassion as a Mediator Between Self-Criticism and Physical Symptom Reporting. Journal of Personality and Psychosomatic Research, 3(2), 48–57. DOI: 10.61838/kman.jppr.3.2.6

Tidak ada komentar:
Posting Komentar